WELLCOME

SELAMAT DATANG DI BLOG YANG MENCOBA UNTUK SHARING TENTANG INFORMASI APA SAJA.

Rabu, 30 November 2011

Senin, 28 November 2011

Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA

 Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA

Dalam Permendiknas No. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik, melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Namun, sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu, Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik, mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi, dalam bentuk naskah akademik, untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia.
Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL), sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK), yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius; (2) Landasan perilaku etis; (3) Kematangan emosi; (4) Kematangan intelektual; (5) Kesadaran tanggung jawab sosial; (6) Kesadaran gender; (7) Pengembangan diri; (8) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis); (9) Wawasan dan kesiapan karier; (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya; dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Masing-masing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan, yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai); (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai).
Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.
Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK
PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS
    No
    Aspek Perkembangan
    Tataran/Internalisasi Tujuan
    Pengenalan
    Akomodasi
    Tindakan
    1
    Landasan hidup religius Mempelajari hal ihwal ibadah Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi
    2
    Landasan perilaku etis Mengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis
    3
    Kematangan emosi Mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain Mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas,terbuka dan tidak menimbulkan konflik
    4
    Kematangan intelektual Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektif Menyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinya Mengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif
    5
    Kesadaran tanggung jawab sosial Mempelajari keragaman interaksi sosial Menyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosial Berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan
    6
    Kesadaran gender Mempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupan Menghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidup Berkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran
    7
    Pengembangan diri Mempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosial Menerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman
    8
    Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis) Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat,ulet, sengguh-sungguh dan kompetitif dalam keragaman kehidupan Menerima nilai-nilai hidup hemat,ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiri Menampilkan hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri
    9
    Wawasan dan kesiapan karier Mempelajari kemampuan diri, peluang dan ragam pekerjaan, pendidikan, dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarah Internalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karir Mengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan, peluang dan ragam karir
    10
    Kematangan hubungan dengan teman sebaya Mempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku
    11
    Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga Mengharagai norma-norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis
    Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga
Sumber:
Depdiknas.2007.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.Jakarta.

UNTUK TEMAN2 KULIAHKU MAHASISWA MM UGM DIKNAS II A

 KONSEP ELASTISITAS

Silahkan download link berikut :

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_mikro/bab_7.pdf
http://ekonomi161.blogspot.com/2008/11/menghitung-elastisitas-harga.html

WINRAr

silahkan download winrar dengan  klik link dibawah ini :

http://www.ziddu.com/download/17575775/wrar393.exe.html

Minggu, 27 November 2011

ATTENTION-DEFICIT/ HYPERAKTIVITY DISORDER

Sekelumit Tentang ADHD

Pernah mendengar istilah ADHD ?. ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder adalah merupakan gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik. ADHD bisa dialami pada jutaan anak-anak dan seringkali berlanjut sampai dewasa.
Beberapa aspek utama dalam ADHD, yaitu ditemukannya kesulitan untuk memusatkan perhatian dan kebiasaan hiperaktif (perilaku yang tidak bisa diam) – impulsif (kesulitan untuk menunda respon / dorongan untuk melakukan / mengatakan sesuatu yang tidak sabar). Biasanya anak-anak dengan penyakit ADHD ini mengalami kepercayaan diri yang rendah, masalah dalam berinteraksi dengan orang lain dan rendahnya kemampuan di sekolah.
Apa saja sih, tanda-tanda atau gejala anak yang menderita ADHD ?. Yang paling utama adalah gejala kesulitan untuk memusatkan perhatian. Kesulitan untuk memusatkan perhatian ini dapat terjadi karena beberapa hal, diantaranya seperti :
•    Sering gagal dalam memberikan perhatian pada hal-hal yang detil ataupun bisa juga ketidakpedulian jika berbuat kesalahan dalam berbagai aktivitas.
•    Sering memiliki masalah dalam mempertahankan perhatian pada pekerjaan atau ketika bermain.
•    Tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung.
•    Susah mengikuti petunjuk yang diberikan dan sering gagal dalam menyelesaikan tugas sekolah ataupun tugas-tugas lainnya.
•    Sering gagal dalam hal pengaturan tugas maupun aktifitas lainnya.
•    Menghindari atau tidak menyukai tugas-tugas yang membutuhkan upaya mental secara terus menerus seperti halnya tugas sekolah maupun pekerjaan rumah.
•    Sering kehilangan sesuatu yang sedang dikerjakan, seperti buku, pensil, mainan, ataupun peralatan lainnya.
•    Mudah bingung.
•    Sering lupa.
Apakah anda merasa tidak asing dengan gejala-gejala di atas?. Coba anda perhatikan, apakah di sekitar anda ada seseorang yang anda kenal yang kurang lebih mempunyai gejala-gejala seperti di atas?. Ada baiknya anda memperhatikan serius mengenai masalah ADHD ini, karena siapapun penderitanya, mereka pastinya membutuhkan bimbingan dan pengarahan khusus untuk masa depan mereka kelak. Orang-orang itu bisa jadi saudara anda, kerabat, bahkan anggota keluarga ataupun anak anda.
Secara sederhana penderita ADHD ini memang mengalami masalah dalam hal konsentrasi. Itulah sebabnya, jika anda mengamati dengan jeli, mungkin anda akan menemukan beberapa penderita dengan gejala-gejala seperti di atas. Penderita ADHD ini memiliki kemampuan konsentrasi yang rendah, itu sebabnya ia sulit melihat dan mengamati hal-hal secara mendetil (seksama). Setiap orang mungkin dan pastinya sering juga berbuat salah jika harus mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian. Namun yang khas dari penderita ADHD adalah bahwa seringkali mereka tidak peduli ketika mereka berbuat kesalahan (entah itu menyangkut tugas/pekerjaan mereka ataupun aktifitas kecil misalnya permainan).
Gejala lainnya dari penderita ADHD yang paling sering tampak adalah bahwa mereka cenderung pelupa (berat). Semua orang memang bisa lupa dan lupa itu memang hal yang wajar, namun tentunya anda juga perlu waspada jika terus menerus lupa. Melupakan berbagai hal dengan frekuensi yang cukup tinggi, bisa jadi salah satu gejala bahwa seseorang menderita ADHD. Lupa yang dialami oleh penderita ADHD mungkin tidak bisa dilepaskan dari masalah gangguan konsentrasi. Mereka (penderita ADHD) adalah orang-orang yang sulit untuk fokus/konsentrasi, baik pada saat mereka mendengar, melihat, belajar, ataupun beraktifitas. Sehingga seringkali mereka melupakan sesuatu (meskipun itu hal yang cukup penting dan baru saja mereka pelajari/alami). Kenapa begitu? Tentu saja karena sebetulnya mereka tidak betul-betul fokus pada apa yang sedang mereka lakukan.

Kamis, 24 November 2011

THE MANAGER AS A PLANNER AND STRATEGIST



                     

Presentasi: Sugiman dan Wahyudin

Planning and Strategy
Planning adalah sebuah proses yang digunakan oleh manajer untuk mengidentifikasi dan memilih tujuan serta tindakan yang tepat untuk organisasi.
Strategi adalah kumpulan dari keputusan-keputusan tentang tujuan yang ingin dicapai, tindakan yang akan dilakukan dan bagaimana menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan.

 Ada 3 langkah dalam Planning :
1.  Menentukan misi dan tujuan organisasi
1.  Menetapkan tujuan bisnis yang utama
2.  Mission statement adalah pernyataan tujuan organisasi secara luas yang mengidentifikasi
     produk dan konsumen perusahaan dan membedakan organisasi dari pesaingnya
 2.  Menyusun strategi
Manajer menganalisis situasi organisasi dan menetapkan strategi-strategi yang diperlukan untuk mencapai misi dan tujuan organisasi
3.  Pelaksanaan strategi
Manajer menentukan sumber daya dan bertanggungjawab untuk melaksanakan strategi-strategi dalam perusahaan.

The Nature of The Planning Process
 Ada beberapa tehnik yang dapat digunakan oleh manajer dalam proses perencanaan :
1. Menemukan dan menentukan posisi perusahaan saat ini
2. Menentukan bagaimana posisi perusahaan di masa yang akan datang
3. Memutuskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk bisa mencapai posisi yang
    diharapkan di masa yang akan datang.

Ketika manajer membuat perencanaan, manajer harus memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang supaya dapat memutuskan apa yang akan dilakukan pada saat ini. Semakin baik prediksinya, semakin efektif strategi-sttrategi yang disusun untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang dan menjawab tantangan dari pesaing.

Lingkungan di luar perusahaan sangat tidak menentu dan kompleks, itulah sebabnya mengapa membuat perencanaan dan strategi merupakan hal yang sulit dan sangat beresiko. Jika manajer salah membuat prediksi sehingga salah membuat rencana dan strategi, dapat menyebabkan menurunnya performa perusahaan.

Why Planning is Important?
1.      Perencanaan diperlukan untuk memberikan arah dan tujuan perusahaan.
Sebuah rencana menyatakan tujuan perusahaan yang ingin dicapai dan strategi apa yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa perencanaan, manajer-manajer dapat menginterpretasikan tugasnya masing-masing sesuai dengan yang terbaik menurut dirinya sendiri sehingga sering terjadi konflik tujuan dan manajer-manajer tersebut tidak dapat bekerja sama dengan baik. Sebuah rencana dapat membuat manajer-manajer ada dalam jalurnya sehingga mereka dapat menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif
2.      Perencanaan memberi kesempatan kepada manajer-manajer untuk berpartisipasi dalam
 membuat keputusan tentang tujuan dan strategi yang tepat untuk perusahaan.
3.      Perencanaan membantu untuk mengkoordinasikan manajer-manajer dengan fungsi dan
divisi yang berbeda dan memastikan bahwa mereka ada dalam arah yang sama dan bekerja untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
4.      Perencanaan dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol manajer-manajer dalam perusahaan

Menurut Henri Fayol, rencana yang efektif harus memiliki 4 kriteria, yaitu :
1.   Unity / kesatuan
 Artinya pada satu waktu hanya ada satu pusat, satu rencana yang memberi petunjuk untuk mencapai tujuan organisasi. Bila ada lebih dari satu rencana, maka akan membingungkan
2.   Continuity / kesinambungan
Perncanaan adalah proses yang terus berlangsung dimana manajer-manajer membangun dan memperbaiki rencana-rencana sebelumnya dan terus menerus memodifikasi rencana-rencana di semua level
3.   Accurate / tepat
Manjer-manajer harus berusaha untuk mengumpulkan dan menggunakan semua informasi dalam proses perencanaan
4.   Flexibility / fleksibel
Perencanaan harus cukup fleksibel, bisa diubah jika ada perubahan sitiasi.



Levels of Planning
Di dalam organisasi yang besar biasanya proses perencanaan terjadi pada 3 level manajemen, yaitu : Corporate, business/division, dan functional/department.
 
Levels dan Types of Planning
  
Corporate
Business
Functional
Plan
Corporate-level Plan
Top manajer memutus-kan tentang misi dan tujuan, semua strategi dan struktur perusahaan

Business-level Plan
Manajer divisi menentukan tujuan jangka panjang, strategi dan struktur divisi

Functional-level Plan
Manajer fungsional menetapkan tujuan-tujuan yang dapat membantu divisi mencapai tujuannya

Strategy
Corporate-level Strategy

Sebuah rencana yang menunjukkan di bidang mana perusahaan akan bergerak dan di pasar mana perusahaan akan berkompetisi
Business-level Strategy

Sebuah rencana yang menunjukkan bagaimana divisi akan berkompetisi dengan pesaingnya
Functional-level Strategy

Sebuah rencana yang menunjukkan bagaimana manajer fungsional meningkatkan nilai barang dan pelayanan perusahaan


Dalam proses perencanaan, sangat penting untuk memastikan bahwa perencanaan-perencanaan di semua level harus konsisten. Tujuan dan strategi di level fungsional harus konsisten dengan tujuan dan strategi divisi dan juga konsisten dengan tujuan dan strategi corporate. Jika semua konsisten, maka semua akan berjalan harmonis. Kegiatan di satu level akan memperkuat level lain, dan akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

Time Horizons of Plans
Time Horizon adalah waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan sebuah rencana. Berdasarkan Time Horizonnya, rencana dapat dibagi menjadi :
1.  Long-term Plan / rencana jangka panjang, dengan time horizon 5 tahun atau lebih
2.   Intermediate-term Plan/ rencana jangka menengah, dengan time horizon antara 1 – 5 tahun
3.   Short-term Plan/ rencana jangka pendek, dengan time horizon 1 tahun atau kurang
Biasanya corporate dan business-level plan dan strategy membutuhkan rencana jangka panjang dan menengah, sedangkan functional level plan dan strategy membutuhkan rencana jangka menengah dan pendek

Kebanyakan organisasi mempunyai rencana tahunan yang berkaitan dengan anggaran keuangan. Corporate atau Business level plan  yang diperpanjang selama beberapa tahun disebut Rolling Plan. Rolling Plan  memungkinkan manajer untuk membuat perbaikan-perbaikan bila ada perubahan lingkungan.


Standing Plans and Single Use Plans
Standing Plans digunakan dalam situasi dimana pembuatan keputusan sudah diprogramkan. Ketika situasi yang dihadapi sama, manajer membuat kebijakan, aturan dan Standard Operating Procedures (SOPs) untuk mengontrol karyawan melaksanakan tugasnya.

Single Use Plans digunakan untuk pengambilan keputusan yang tidak terprogram/tidak biasa/satu jenis situasi. Contohnya adalah program yang merupakan kumpulan rencana-rencana untuk mencapai tujuan tertentu.
 

Scenario Planning
Rencana yang efektif harus memiliki criteria unity, continuity, accurate, dan flexible. Salah satu metode yang digunakan secara luas untuk menolong manajer agar dapat membuat rencana yang efektif adalah Scenario Planning.

Scenario Planning / Contingency Planning adalah membuat scenario kondisi-kondisi di masa yang akan datang dan dianalisis bagaimana merespon secara efektif terhadap kondisi-kondisi tersebut.

Keuntungan menggunakan Scenario Planning adalah manajer bisa mengantisipasi tantangan-tantangan yang tidak menentu di masa yang akan datang dan mendidik manajer untuk berpikir jauh ke depan dan berpikir strategis.
 
Determining the Organization’s Mission and Goals
 Menemukan bisnis. Tujuannya :
1.      Untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen
2.      Menemukan cara perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen
3.      Mengetahui siapa pesaing sebenarnya
 Cara menemukan bisnis adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
1.      Siapa konsumen kita?
2.      Kebutuhan konsumen apa yang akan dipuaskan?
3.      Bagaimana kita memuaskan kebutuhan konsumen?

Establishing Major Goals
Setelah menemukan bisnis yang akan dijalankan, manajer harus menetapkan tujuan-tujuan organisasi.

Strategic Leadership adalah kemampuan manajer untuk menyampaikan visi yang ingin dicapai oleh organisasi kepada bawahannya.

Waktu pencapaian tujuan harus dinyatakan untuk menekankan bahwa tujuan harus dicapai dalam periode waktu tertentu dan juga berfungsi sebagai motivator

Formulating Strategy
Penyusunan strategi dimulai dengan analisis faktor-faktor atau kekuatan-kekuatan di dalam perusahaan dan di luar perusahaan yang mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Analisis SMOT dan Five Forces Model adalah 2 teknik yang dapat digunakan manajer untuk melakukan analisis.

SWOT Analysis adalah latihan perencanaan di mana manajer mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi dan peluang serta ancaman/tantangan dari lingkungan.

The Five Forces Model (by Michael Porter)
Ada lima hal yang harus dianalisis sebelum penyusunan strategi, yaitu :
1.  Tingkat persaingan di antara perusahaan-perusahaan
Semakin perusahaan-perusahaan bersaing satu sama lain, misalnya dengan menurunkan harga produknya atau dengan meningkatkan pemasaran, semakin rendah keuntungan perusahaan
2.   The potential for entry into an industry
Semakin mudah masuk ke dalam industri misalnya karena penghambat untuk masuk rendah, maka harga menjadi rendah dan keuntungan menjadi rendah
3.   Kekuatan supplier
Jika hanya ada beberapa supplier dari input/bahan baku yang penting, maka supplier dapat menaikkan harga bahan baku. Harga bahan baku yang mahal memnyebabkan keuntungan yang rendah bagi perusahaan
4.   Kekuatan Konsumen
Jika hanya ada beberapa konsumen yang dapat membeli produk dari industri, konsumen dapat menawar dan menurunkan harga sehingga keuntungan perusahaan menjadi rendah
5.   Ancaman produk substitusi/pengganti
Produk suatu industri dapat menjadi produk pengganti untuk produk dari industri lain. Ketika produk pengganti ada di pasaran, perusahaan tidak dapat menetukan harga tinggi untuk produknya karena konsumen bisa beralih ke produk pengganti.

Hypercompetition adalah persaingan yang tetap, terus berlangsung dan kuat yang terjadi dalam industri dengan meningkatkan teknologi atau perubahan selera konsumen.
 
Formulating Business Level Strategis
Michael Porter yang mengembangkan the five forces model juga mengembangkan teori bagaimana manajer dapat memilih Business Level Strategy.

Porter berpendapat bahwa Business Level Strategy yang baik dapat menurunkan persaingan, mencegah masuknya pesaing baru, mengurangi kekuatan supplier dan konsumen, dan mengurangi ancaman produk pengganti.

Menurut Porter ada 4 Business level Starategy, yaitu :
1.  Low Cost
Mendorong perusahaan menurunkan biaya produksinya di bawah biaya produksi pesaingnya. Dengan strategi ini :
-  Manajer produksi harus mencari cara baru untuk mengurangi biaya produksi
-   Manajer R&D fokus pada pengembangan produk baru yang dapat diproduksi dengan lebih murah
-  Manajer pemasaran mencari cara untuk menurunkan biaya pemasaran
Ketika perusahaan menetapkan harga yang rendah maka akan menyulitkan perusahaan baru untuk masuk ke dalam industry

2.   Differentiation
Membedakan produk kita dengan produk dari pesaing, misalnya membedakan desainnya, produknya, kualitasnya, atau after sales servicenya. Biasanya membuat produk unik dan berbeda itu mahal sehingga meningkatkan harga produk. Diferensiasi membuat perusahaan baru sulit masuk ke dalam industri karena tidak memiliki nama dan konsumen tidak mau produk lain sehingga memungkinkan perusahaan yang melakukan diferensiasi untuk menetapkan harga lebih tinggi
3.  Focused low cost
Hanya melayani satu segmen dan mencoba untuk menjadi perusahaan yang biayanya paling rendah
4.  Focused Differentiation
Hanya melayani satu segmen dan mencoba untuk menjadi organisasi yang paling berbeda di segmen yang dilayani.

Segmen yang dipilih misalnya hanya untuk bayi, atau area tertentu misalnya bagian timur, atau bagian barat.
 
Formulating Corporate level Strategies
 Ada beberapa strategi, yaitu :
1.   Konsentrasi pada satu industri
Menginvestasikan kembali keuntungan perusahaan untuk memperkuat posisinya dibidang usahanya saat ini
2.   Vertical Integration
Memperluas bisnis perusahaan ke industri yang menghasilkan bahan baku produknya atau ke industri  yang menggunakan, mendistribusikan atau menjual produknya
3.   Diversifikasi
Memperluas bisnis perusahaan ke industri baru supaya menghasilkan produk dan pelayanan baru. Ada 2 macam diversifikasi :
a.  Related Diversification
Melakukan diversifikasi ke divisi atau bisnis yang berhubungan dengan bisnis yang sudah ada. Misalnya P&G memproduksi diapers dan melakukan related dicersification dengan memproduksi handuk kertas
b.  Unrelated Diversification
Melakukan diversifikasi ke bisnis baru atau membeli perusahaan dengan bisnis baru yang tidak ada hubungannya dengan bisnis yang sudah ada. Alasan melakukan Unrelated Diversification adalah :
-  Manajer membeli perusahaan yang performanya kurang baik, kemudian menajer  mentransfer manajemennya sehingga meningkatkan performanya
-  Meningkatkan keuntungan dari divisi-divisi yang berbeda dan mengurangi resiko dengan bisnis yang berbeda-beda
Terlalu banyak  diversifikasi dapat menyebabkan manajer kehilangan control pada bisnis intinya.

4.   Ekspansi International
Menjual produk ke luar negeri dan bersaing di lebih dari 1 pasar nasional. Ada 2 strategi yang dapat dilakukan, yaitu :
a.   Global Strategy
Menjual produk dengan standar yang sama dan menggunakan dasar pendekatan pemasaran yang sama di tiap pasar nasional. Keuntungannya : menghemat biaya, tidak perlu melakukan penyesuaian produk dan pendekatan yang berbeda di tiap Negara. Kerugiannya : bisa kalah bersaing dengan competitor local yang melakukan penyesuaian dengan selera konsumennya
b.  Multidomestic Strategy
Menyesuaikan produk dan strategi pemasaran dengan kondisi pasarnya. Keuntungannya : dengan adanya penyesuaian produk, maka manajer dapat menjual dengan harga yang lebih mahal. Keugiannya : meningkatkan biaya produksi
 
Choosing a way to expand internationally
 Ada 4 cara untuk melakukan ekspansi ke luar negeri :
1. Importing dan Exporting
-  Importing adalah menjual di Negara sendiri produk yang dibuat di luar negeri
-  Exporting adalah membuat produk di Negara sendiri dan menjualnya ke luar negeri
2. Licencing dan Franchising
-  Licencing adalah memperbolehkan perusahaan asing untuk memproduksi dan mendistribusikan produk di negara sendiri dengan imbalan yang telah dinegosiasikan
-  Franchising adalah menjual ke perusahaan asing hak untuk menggunakan nama dan system. Imbalannya : lump sum payment dan pembagian keuntungan
3. Strategic Alliance
Kesepakatan dimana manajer berbagi sumber daya perusahaan dengan perusahaan asing dan 2 perusahaan berbagi keuntungan dan kerugian/resiko dari usaha baru
4.  Wholly owned Foreign Subsidiary
Produksi dilaksanakan di Negara lain dan tidak tergantung dari keterlibatan pihak local
 
Planning and Implementing Strategy
 Setelah mengidentifikasi strategi bisnis dan corporate untuk mencapai misi dan tujuan, manjer ditantang untuk mengimplementasikan strategi-strategi dalam tindakan. Ada 5 tahap implementasi strategi :
1.      Menetapkan siapa orang atau kelompok yang bertanggungjawab untuk implementasi.
2.      Mengkonsep rencana tindakan secara detil dan spesifik menyatakan bagaimana strategi diimplementasikan.
3.      Menyatakan jadwal untuk pelaksanaan implementasi.
4.      Menempatkan sumber daya yang tepat untuk implementasi strategi.
5.      Menyiapkan orang atau kelompok yang bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan corporate, divisional dan fungsional.